Teruslah berani melangkah dan capailah mimpi dan impianmu

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Tatapan Ujung Senja



Di ujung senja dia menatap tajam. Gadis kecil itu berdiri diam dengan dress putih yang jatuh di bawah lututnya. Rambutnya terurai panjang dengan bando putih yang menghiasnya.  Perlahan melangkah  meniti jalan kecil berbatu. Ketika begitu dekat dengannya, sorot cahaya menerpa semuanya. Anak itu menghilang. Matapun terbuka.
Cahaya matahari mengintip dari belahan korden jendela kamar. Sinar lembutnya persis jatuh di dahi Diya. Beranjak dari tidur dan melirik jam weker yang ada di meja samping kasurnya. Derap langkah kaki menuju kamar mandi. Matanya masih sayu walaupun percikan air telah membasahi wajahnya. Kemeja putih dengan jeans hitam terlihat rapi dikenakannya. Pantulan dirinya terlihat jelas pada cermin. Rambutnya dikuncir ke belakang. Diya memulaskan pelembab di wajahnya dan menaburkan bedak tipis. Sentuhan terakhir mengoleskan lip balm pada kedua lembar bibirnya. Diya mengambil tasnya beranjak keluar dari kamar.
Diya mulai menyantap sepotong roti dan segelas susu di hadapannya. Ibu duduk di sampingnya. Tidak ada percakapan. Tatapan matanya syahdu terhadap anak semata wayangnya.
“Ingat Diya jangan ngebut di jalan.” Diya mengangguk sebagai jawaban. Sebelum pergi Diya selalu mencium tangan dan kedua pipi sang ibu.
Diya tersenyum. Lewat daster batik yang ia pakai, wanita itu tetap berdiri di teras rumah memastikan Diya pergi dan ketika pulang dia akan berdiri menunggu kedatangannya. Begitu tulus dan  hangat cinta seorang ibu.
***
Selama kuliah berlangsung, pikirannya teralihkan dengan mimpi yang dialaminya akhir-akhir ini. Mimpi itu selalu sama. Diya selalu bertemu gadis kecil itu. Mencoba menghapal garis-garis wajahnya. Namun wajah itu tidak bisa terlukiskan dalam ingatannya. Begitu samar bagai dipeluk kabut.
Sepulang kuliah Diya pergi ke toko buku langganannya yang berada di kawasan dekat kampus. Diya mengambil sebuah novel sastra dan membaca sinopsis yang ada di belakangnya. Sesekali dia menengok dunia luar yang sibuk dan padat tiada hentinya.
Pandangan Diya kini tertuju pada satu arah. Sosok gadis kecil itu ada di hadapannya. Anak itu berdiri di trotoar seberang jalan tempatnya berada. Sepasang mata memandang tepat ke dalam matanya. Diya mencoba menajamkan penglihatannya. Kini Diya menyakinkan dirinya bahwa ini bukan ilusi tapi sebuah kenyataan.
            Sesaat Diya menebarkan pandangannya  ke jalan-jalan yang membelah kota. Di sana, di atas aspal licin bagaikan kaca, anak itu malah beranjak dari tempatnya.
“Tunggu...”
            Tubuh kecil itu terlihat menusuri trotoar pinggiran jalan. Jarak diantara mereka berdua tidak begitu jauh. Diya tidak putus asa, dia terus mengikuti gadis kecil itu. Hingga sebuah pertigaan jalan jejak itu menghilang.
            Matanya tengah sibuk mencari keberadaan anak itu. Hanya sebuah tempat pembuangan sampah yang terlihat pada sudut jalan kecil yang sepi. Seorang laki-laki berumur tengah sibuk memilah sampah-sampah dengan tongkat kayu yang ditangannya. Kemudian memasukannya ke dalam keranjang bambu di punggungnya yang belum separuhnya terisi. Pakaiannya lusuh dengan kaki dilapisi sandal jepit yang mulai rusak. Wajahnya terlihat kusam tidak terawat.
            “Permisi, apa bapak melihat anak kecil lewat sini?”
            Ia menghentikan gerakan tangannya. Bapak itu hanya diam. Matanya menatap Diya yang sedang menunggu sebuah jawaban. Cukup lama mereka saling bertatapan.
            “Tidak ada...” jawabnya singkat. Suara parau keluar dari mulutnya.
            Terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya. Diya berjalan kembali pulang. Sesekali dia  menengok ke belakang, bapak itu masih berdiri memandangnya dari kejauhan. Diya sempat risih dan mempercepat jalannya.
Beberapa hari kemudian, sosok itu kembali muncul dihadapannya. Anak itu berdiri di bawah pohon mahoni besar di tepi jalan raya. Diya mencoba mendekatinya namun dia selalu menjauh. Kejar-kejaran tidak bisa terhindari. Disaat begitu dekat, jejak itupun segera menghilang. Hanya tersisa seorang bapak yang mengais sampah disela-sela rerumputan. Laki-laki yang sama ia temui sebelumnya. Mata mereka sempat bertemu namun Diya segera mengalihkannya. Benaknya diliputi setumpuk tanda tanya.
***
Di ujung senja gadis kecil itu duduk di ayunan yang tergantung pada pohon rindang. Rambut panjangnya terbang oleh angin yang berhembus menghantam tubuhnya. Ayunan itu tiba-tiba terhenti begitu saja. Diya tepat berdiri dihadapannya.
“Apa maksud dari semua ini?”
Iris matanya berwarna cokelat. Kedua alisnya tebal. Wajahnya putih bersih tanpa ada sedikit kotoran yang melekat pada kulit halusnya. Anak itu hanya diam. Kedua matanya hanya tertuju pada perempuan yang  memiliki warna mata yang sama dengannya.
“Darahnya mengalir dalam dirimu.”
Seketika Diya terhempas dalam sebuah kenyataan. Kedua mata Diya terbuka. Mimpi itu seolah terlihat nyata. Diya masih dalam posisi tidur. Tubuhnya masih tertutup oleh selimut tebal yang membungkusnya. Diya terkapar lemas dengan wajahnya yang pucat dan penuh keringat, matanya semu merah. Suhu tubuhnya tinggi.
. Jerit batinnya ingin segera bergerak namun terhenti oleh tubuhnya yang tidak mampu melakukannya. Hanya waktu yang bisa memulihkannya. Diya hanya bisa menunggu.
 “Apa ibu masih ingat kapan pertama kali mengadopsiku?”
Keheningan memecah diantara mereka berdua. Ibu menoleh sebentar pada ayah yang ada di muka pintu kamar.  Ayah hanya mengangguk kecil.
“Saat itu kamu masih kecil. Usiamu baru beranjak 2 tahun. Pertama kali melihatmu, kami berdua langsung yakin memilihmu untuk mengisi kehidupan kami yang penuh akan penantian seorang anak. Kau hadir dan membahagiakan hidup kami.”
“Menurut ibu, apa kedua orangtua kandungku telah membuangku?”
Ibu sempat terkejut dengan lontaran yang Diya keluarkan.
“Orangtua mana yang ingin membuang anaknya. Pasti ada alasan dibalik semua ini. Kau tidak boleh berpikiran sempit seperti itu.”
 “Apakah aku patut membenci mereka selama ini?” Tiba-tiba air matanya mengalir pelan.
Ibu segera menarik tubuh Diya ke dalam pelukkannya. Dia tidak bisa membiarkan anaknya menangis menahan keperihan yang sangat mendalam.
“Kau tidak boleh membencinya. Ingat merekalah yang melahirkanmu. Maafkan ibu, seandainya ibu tahu keberadaan mereka, semua tidak akan seperti ini.”
Tangisan Diya tak tertahankan.
***
            Gadis kecil itu selalu hadir dalam mimpinya. Namun, Diya mencoba untuk menghapus semua ingatan tersebut dan menenangkan pikirannya. Siapa sangka anak itu kembali muncul dihadapannya. Diantara kerumunan orang pasar yang silih berganti dengan kesibukannya masing-masing. Anak kecil itu masih bisa terlihat jelas oleh kedua matanya. Anak itu mulai melangkah balik menjauh dari dirinya. Diya mencoba menahan kedua kakinya untuk tetap berada disini. Namun tidak bisa. Sekali lagi Diya mengayunkan langkahnya. Pertanyaan itu masih belum terjawab.
            Busur matanya menerobos orang-orang yang dilewatinya. Berharap dapat menangkap anak itu dari kejauhan. Diya mulai memasuki suatu gang kecil. Diya berhenti tepat dimana jejak anak itu kembali menghilang. Sebuah rumah kecil beratap rumbai dedaunan kering. Rumah berdinding batu setengah triplek. Sedangkan lantainya hanya beralaskan tanah. Halaman kecilnya tertutupi oleh barang-barang bekas tidak layak pakai. Seorang bapak sedang duduk di teras rumah sembari membersihkan beberapa gelas aqua plastik dan memasukannya ke dalam karung putih kusam yang ada di sampingnya. Raut wajah Diya berubah. Inikah jawabannya.
            Jarak melenyap. Sepertinya bapak itu tidak merasakan hawa kehadirannya. Diya mengambil sebuah aqua yang berada di depannya. Melepaskan plastik aqua yang masih menutupi sebagiannya. Saat itu bapak baru menyadari bahwa Diya telah persis di depannya. Begitu dekat.
            “Apa bapak masih mengingatku?” suaranya sedikit bergetar.
            Bapak hanya diam. Guratan-guratan terlihat di wajahnya. Kedua matanya berwarna cokelat seperti yang Diya miliki. Bapak mencoba menyipitkan kedua matanya mencoba melihat Diya lebih jelas. Tidak ada jawaban hanya kebisuan yang menyelimuti.
            “Apa kau membenciku?” memecah keheningan yang mulai hinggap.
            “Aku ingin membenci bapak tapi tidak bisa. Darahmu mengalir dalam diriku. Kau adalah bapakku.” Tubuhnya bergetar. Tangis yang tertahan akhirnya tumpah.
            Cukup lama dia diam. Mata bapak mendadak berkaca.
             “Anak bapak sudah dewasa. Sangat cantik seperti ibunya.” Kedua tangannya membelai wajah Diya.
            “Maafkan bapakmu ini...”
Diya memeluk orang yang telah ia tunggu hingga puluhan tahun. Pertemuan itu akhirnya terjadi. Sebuah kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tua kandungnya sendiri. Tangisan rindu dan penyesalan menyertai keduanya.
***
            Beberapa barang dan baju telah rapi dikemas. Diya mecoba merapikan kerah baju bapak. Wajah bapak terlihat lebih segar. Tubuhnya bersih dan wangi. Rambutnya tersisir dengan rapi. Bapak terlihat berbeda lebih berwibawa. Diya tersenyum puas.
            “Sekarang bapak bisa tinggal di rumah ini. Bapak tidak perlu bekerja seperti dulu. Bapak tidak perlu sakit-sakitan lagi, Diya tidak ingin bapak menyakiti diri bapak sendiri.”
            “Ini sudah cukup, bapak tidak ingin merepotkanmu.” Bapak tersenyum sembari menepuk pundak kanan Diya.
            Diya menggelengkan kepalanya.
“Diya akan membahagiakan bapak. Itu pasti.”
            Bapak hanya tersenyum memandang anaknya. Dia mencoba menghapalkan garis-garis wajah Diya diantara kedua matanya yang mulai sayu termakan oleh umur.
            “Diya pulang dulu ya pak...” Diya memeluk bapak dan mencium kedua tangannya.
            “Bapak sudah bahagia dengan adanya kamu disamping bapak.” Bisikan kecil mengalir lembut ke telinga Diya.
            Bapak mengantarkan kepulangan Diya di teras rumah. Diya menarik segaris senyum. Tidak sabar menunggu hari besok yang menantinya.
            Takdir berkata lain. Tidak ada hari esok. Terakhir kalinya Diya melihat wajah bapak. Senyuman bapak raup menghilang. Sebuah tragedi tragis tidak bisa terhindarkan. Diantara hujan yang menurunkan butir-butir beningnya. Kecelakaan itu memecah kesunyian jalan yang tampak berjaga menginjak senja yang melamur.
Gadis kecil itu berdiri di ujung senja. Menatap diam. Dia mengulurkan tangan kecilnya kepada Diya. Terlukiskan sebuah senyuman pada kedua sudut bibirnya.
Diya menyambut uluran tangan gadis kecil tersebut.
“Kini aku mengerti...”
            “Kau adalah aku.”
Perlahan kedua mata Diya tertutup.
***


Read More

Kamis, 14 Februari 2013

Bianglala


Berawal  dari sebuah bianglala besar. Ketika putaran roda berada di puncak, kedua pasang mata bertemu. Paras wajahnya yang lembut membuat Rangga berpikir bahwa dia reinkarnasi Dewi Athena dari sejarah Yunani. Hanya tatapan sekilas beradu pandang dan menghilang. Matanya tengah sibuk mencari keberadaan wanita tersebut diantara kerumunan orang banyak. Panas terik matahari tepat berada di bawahnya. Rangga mulai mencari sesuatu untuk memuaskan dahaganya. Sebuah “Cornetto Black & White” menjadi pilihannya. Siapa sangka Cornetto telah mempertemukannya dengan wanita yang telah jerih payah ia cari. Kedua belah tangan bertemu untuk satu Cornetto.

“Kau duluan...” ucap Rangga mengalah.
        Wanita itu tersenyum sembari menyibakkan rambutpanjangnya ke belakang telinga dan berjalan menjauh dari tempatnya berdiri sekarang. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Rangga. Dia benar-benar terpesona.
Sebuah keributan terjadi diluar sana. Seketika Rangga berhenti memakan es krim Cornetto yang ada di tangannya. Seorang yang dikenalnya sedang dalam kesulitan. Es krim Cornetto yang sebelumnya ia beli tidak sengaja mengotori lengan baju yang dikenakan seorang ibu yang dilewatinya. Beberapa kali wanita itu membungkukkan badannya, permintaan maaf atas keteledorannya. Namun ibu itu tetap tidak peduli dan terus mencerca wanita itu dengan suara keras dan lantangnya. Hal itu membuat wanita tersebut semakin terpojok diantara kerumunan orang yang semakin lama bergerombol melihatnya.
Seketika Rangga menarik dirinya diantara kerumunanan. Berdiri di hadapannya dan memegang tangan kecil wanita tersebut.
            “Tolong maafkan pacarku. Ini hanya sebuah ketidaksengajaan”
            Tiba-tiba sang ibu hanya terdiam dan orang disekitarnya mulai membubarkan diri. Tidak banyak kata yang terlontar. Sang ibu segera memaafkannya.
            “Anggap saja ini awal perkenalan...” Sebuah Cornetto Black & White mengalir kembali ke tangannya.
            “Rangga...”  “Rasti...”
            Mereka saling berjabat tangan. Rasti menarik segaris senyum.
“Terima kasih buat tipuannya. Itu sangat membantu...” sedikit mengejek Rangga.
Di bawah bayangan pohon mereka menikmati es krim Cornetto sambil saling berbagi kisah. Rangga baru mengetahui bahwa ini adalah pertama kalinya Rasti menginjakkan kaki di tempat ini. Banyak hal yang Rasti ingin lakukan selama berada di taman bermain ini.
“Mau bermain bersama?”
Setengah hari menghabiskan waktu bersama. Berbagai arena permainan mereka lalui. Tidak lupa Cornetto Black & White selalu menemani disela-selanya Hingga waktu yang telah dilalui terasa sekejap.
“Terima kasih buat semuanya... Hari yang sungguh menyenangkan.”
Rangga hanya tersipu malu. Dari kejauhan seorang wanita memanggil Rasti sambil melambaikan tangannya.
“Sepertinya kakak ku sudah menjemput. Senang bertemu denganmu.”
            Rasti membalikkan badannya, berjalan menjauh meninggalkan sebuah goresan kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.

            “Rasti...” panggil Rangga dari kejauhan. Derap langkahnya terhenti. Sekali lagi mencoba menengok ke belakang.
            “Kita bisa bertemu lagi kan?”
            Rasti sempat terdiam sejenak...
            “Pasti...”
***
            Sebuah Cornetto mengalir lembut ke dalam tenggorokannya. Disela-sela aktivitasnya yang sibuk, ia masih menyempatkan diri menikmati kelembutan dari Cornetto. Setidaknya ini juga yang mengingatkan kembali kenangannya bersama Rasti.
Suatu hari persediaan Cornetto yang ada di kulkas telah habis. Rangga mulai beranjak dari rumah dan pergi ke toko terdekat.


    “Cornetto Black & White-nya satu...”                        
 Kedua belah tangan bertemu pada satu Cornetto.
Kedua pasang mata mereka bertemu, jarak keduanya begitu dekat.
Rangga dan  Rasti menarik garis senyum lebar...
Sebuah lembar baru akan dimulai.


Read More

Selasa, 17 Januari 2012

Jamsa Street Part 2

Suara hening perpustakaan membuat Naya semakin larut dalam bacaannya bahkan dia tidak akan merasa seseorang telah duduk disebelahnya.
“Kenapa kemarin teleponku tidak diangkat?”bisik Randy di telinga Naya. Hal itu sempat membuat Naya terkejut akan kedatangannya.
 “Maaf ......kemarin aku kerja lembur jadi gak sempat terima teleponmu.”
“Kalau begitu kau harus menebus kesalahanmu.”
“Baiklah... kau mau apa?”
“Kau harus ikut denganku SEKARANG.”
Randy segera menutup buku tebal itu dan menarik tangan Naya untuk segera ikut dengannya.   Naya sseakan sudah mengetahui akan dibawa kemana oleh Randy. Tidak lain adalah  rumah barunya Randy yang penuh akan ice cream. Randy segera menarik tangan Naya tanpa melihaat ekspresi muka Naya. 
“Kau tunggu disini, aku akan menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu.”
Naya hanya tersenyum renyah melihat Randy yang begitu semangatnya mempersembahkan eksperimen terbarunya. Beberapa saat teman-teman Randy yang bekerja disana menegurnya. Memang Naya adalah seseorang yang paling sering mengunjungi Crown cafe. Segala sesuatu hal yang baru, Randy selalu akan mengajak Naya sebagai orang yang pertama menilai rasa cipta ice cream tersebut.
Namanya lemon ice cream. Cobalah...”
Naya pun memakan sesendok penuh lemon ice cream. Warnanya kekuningan dengan sepenggal buah lemon yang ditaruh pada pinggiran gelas ice cream tersebut dihidangkan. Baunya memang khas sebagaimana aroma lemon pada umumnya .
“Bagaimana rasanya?”
“Enak...”
“Hanya itu?”
Naya sempat bingung harus mengatakan apa lagi pada Randy. Dia memang merasakan suatu rasa yang lain pada mulutnya tapi dia bingung bagaimana mengungkapkannya. Naya memang seseorang yang menyukai es krim tapi hanya sebatas suka tidak berlebihan seperti halnya Randy yang memang tergila-gila akan es krim.
Wajah Randy sempat penuh penasaran terhadap Naya. Namun, gadis itu hanya diam saja dan melanjutkan makan es krim tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.
“Kau tahu Naya, harum lemon ini akan membangkitkan semangat yang ada pada dirimu apalagi kalau kau merasa sangat lelah.”
“Benarkah?” Naya tersenyum tipis. Memang benar apa yang dikatakan oleh Randy, es krim ini membuat pikiran kita yang awalnya penuh dengan emosi serta beban yang banyak seolah-olah hilang di sapu oleh segarnya es krim ini. It’s perfect.
Sore itu Naya mengayuh sepedanya sendirian tanpa didampingi oleh Randy. Entah mengapa hari ini tingkah laku Randy berbeda seperti biasanya terhadap Naya.  Apa ini semuanya akibat Naya yang kurang respon terhadap es krim yang dibuat oleh kekasihnya itu atau ada hal lain yang disembunyikan oleh Randy. Entahlah itu siapa yang tahu. Naya hanya terdiam sambil mengayuh sepedanya.
***
It’s Sunday......
 A perfect day for holiday.  Naya telah siap dengan beberapa sandwich yang telah tersusun rapi pada kotak makanannya. Rencananya Randy telah berjanji dengan Naya untuk weekend bersama di rumahnya. Randy memang laki-laki yang mandiri. Dia tinggal di kota ini sendirian hanya rumah besar di tepi danau kecil pemberian dari sang ayah. Kedua orangtuanya sibuk kerja di luar negeri.
Sesampainya di sana, tampak rame sekali orang berkumpul di kafenya. Ini adalah suatu hal yang jarang terjadi, biasanya memang “Crown Cafe” ini tidak pernah sepi dari pengunjung tapi pada hari ini pengunjung yang datang lumayan banyak dari hari biasanya.
Naya pun sempat bingung apakah dia harus menemui Randy atau tidak karena Naya yakin Randy pasti sangat sibuk dengan banyaknya pengunjung di kafenya ini.  Tapi, setelah kesibukan ini dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Randy.
“Randy apa masih sibuk? Aku tunggu kamu di rumahmu sore ini.”
Sms itu pun terkirim. Nayapun hanya terduduk diam di pelataran halaman belakang Randy sambil melihat hijaunya air danau dan kesejukan pohon yang ada di sekitarnya. Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Naya pun berdiri setelah sekian lama duduk menunggu namun tidak ada tanda-tanda kemunculan Randy. Raut wajah kecewa menyelimuti Naya. Apa Randy benar-benar lupa akan janjinya padahal dia bukanlah orang yang mudah untuk mengingkari janji. Naya tahu akan hal itu. 
Memang Naya kecewa, sedih, dan marah pada Randy.  Namun, entah angin bergerak kemana, Naya pergi ke cafe untuk menemui Randy. Ternyata benar Randy telah melupakan janjinya. Dibalik kaca itu terlihat Randy dengan tawa lebar penuh kepuasan bersama bersama teman-temannya. Perasaan sedih menusuk hatinya. Naya tidak marah kalau dia tidak diikutsetakan pada pesta keberhasilan Randy tapi yang membuat hatinya sangat kecewa mengapa Randy tidak memberitahunya. Entah kenapa akhir-akhir ini mereka sering bertemu, ketidakcocokkan sering menghinggapi keduanya. Mengapa hal itu harus terjadi, baik Naya maupun Randy pun tidak ada yang tahu.
Perasaan semakin menusuk seketika seorang wanita sangat dekat dengan Randy. Dia bukanlah saudara perempuan atau teman yang dikenal oleh Naya. Dia berbisik halus di telinga Randy entah apa yang mereka bicarakan. Tawa Randy yang lepas terhadap wanita itu membuktikan bahwa ada suatu hal yang tidak diketahui oleh Naya terhadap Randy. Naya tahu bahwa Randy tidak akan pernah mendekati seorang wanita terkecuali wanita itu punya hubungan dekat dengannya. Tapi hingga sekarang hanya lah dirinya sendiri dan kak Cindy, saudara perempuannya lah wanita yang paling dekat dengannya. Tidak ada yang lain.
Sepanjang perjalanan pulang, air mata Naya pun sedikit demi sedikit menetes. Sekarang semua perasaannya campur aduk. Naya bingung apa yang harus dilakukannya pada Randy. Kini dia harus membuat suatu keputusan.
***
“bagaimana menurutmu?”
“rasanya memang enak namun aroma blueberrynya kurang terasa...”
Randy hanya tersenyum puas. Windy memang benar. Teman kecilnya ini sudah tumbuh besar menjadi seorang wanita yang cantik, mandiri dengan segala kepintarannya yang ia bawa dari Australia. Randy memang memahami hal ini, Naya dan Windy sangatlah berbeda. Windy banyak memiliki kesamaan dengan dirinya baik dari segi hobi dan juga kebiasaan. Windy selalu  bersikap terbuka dibanding Naya yang cenderung suka menutupi masalahnya.  
Sudah 1 minggu ini hubungannya dengan Naya tidak ada. Hanya satu sms dari Naya yang menyatakan untuk tidak bertemu dengannya selama beberapa hari ini. Randy pun sempat kebingungan dengan sikap Naya yang berubah secara tiba-tiba ini. Randy sudah mencoba untuk menghubungi dan bertemu dengannya namun hal itu sia-sia. Naya akan selalu menghindar darinya, hal itulah yang membuat Randy menyerah dan merasa bingung apa yang salah dari dirinya.
Mereka berdua duduk terdiam didampingi dengan masing-masing secangkir chocolate hangat. Windy memandangi wajah Randy yang terlihat lesu tidak bersemangat seperti ada sesuatu yang dipendamnya. 
“Randy, boleh aku menyukaimu?”
Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Windy.  Randy memandang muka Windy dengan  wajah terkejut. Tidak menyangka teman kecilnya ini telah memendam perasaan suka kepadanya sedari dulu.
“aku telah mengatakan hal ini pada pacarmu agar bisa melepaskanmu!”
Randy hanya terdiam kaku. Kini dia tahu alasan Naya selalu menghindar darinya. Tapi yang ia tidak mengerti adalah mengapa Windy melakukan hal ini?  Mengapa Windy harus mengungkapkan semua ini yang ia tahu bahwa hal ini akan berujung sia-sia? Lalu apa yang dijawab Naya setelah apa yang diungkapkan oleh Windy. Randy mengambil tas punggungnya dan segera pergi meninggalkan Windy yang hanya duduk terdiam memandangi secangkir chocolate yang berangsur dingin.
Naya melangkahkan kakinya menuju rumah. Mukanya terlihat lesu penuh kelelahan karena seharian ini dia harus melakukan tugas proyeknya yang banyak membuang energi dan juga pikiran. Namun hal ini akan semakin bertambah ketika terlihat Randy berdiri di depan kediamannya. Naya hanya memandang lemah Randy dan segera beralih melewatinya tanpa berkata apapun.
“Apa semua ini karena Windy?”
Langkah Naya terhenti seketika. Kini akhirnya Randy mengetahui apa yang terpendam dalam hatinya. Namun mengapa dia harus memberitahukan ini disaat kondisi Naya yang tidak memungkinkan. Ini membuat hatinya terasa sesak bukan karena tersakiti oleh Randy tetapi dia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak mampu menjaga Randy. Naya tahu tidak selamanya cinta itu harus memiliki kini dia harus membuat keputusan apa akan melepaskannya atau tidak.
Naya membalikkan badannya sambil memandang wajah Randy yang sangat menanti jawaban darinya.
“Aku tidak tahu apa aku harus melepaskanmu atau tetap memilikimu dengan kondisi kita yang selalu serba salah. Kini aku terlalu lelah untuk membicarakan hal ini. Bisa kah kita bicarakan nanti?”
Randy hanya terdiam membiarkan Naya memasuki pintu rumahnya tanpa melontarkan sepatah katapun.
***
Tinggal polesan terakhir dengan menaruh satu buah cherry di atas tangkup es krim barunya. Perpaduan es krim vanilla dengan daun pandan ditambah dengan warna merah cherry membuat warna es krim terlihat lebih cerah dan alami. Apalagi ditambah dengan aroma daun pandan yang khas membuatnya menambah keistimewaan es krim itu sendiri.
“Mau kau mau beri nama apa?”
“Entahlah.....”
Pandangan Randy terhadap es krim itu seketika hilang saat seorang wanita yang baru memasuki kafenya yang tidak lain adalah Windy. Selama beberapa hari ini dia terus memikirkan tentang hal itu dan sekarang Randy akan memberikan jawaban itu pada Windy.
***
Kini Naya kembali ke tempat dimana semuanya berawal, Jamsa street. Sepanjang jalan terasa sepi, daun-daun pepohonan sudah berguguran menandai berakhirnya musim gugur. Burung gagak pun mulai mencari tempat berlindung sebagai persiapan menghadapi musim dingin yang panjang.  Naya terhenti sejenak dan memandang sekelilingnya. Terngiang di pikirannya mengenai apa yang dikatakan oleh sehabatnya. Apa mitos itu benar? Apakah ketika kau berjalan di sini berdua dengan pasanganmu maka semua hubunganmu akan berakhir.  Jika itu benar, mengapa Naya harus percaya.  Haruskah semuanya beakhir? Tidak bisakah semuanya kembali seperti semula. Naya mulai menutup mulutnya menahan isak tangis yang semakin besar.
“Setiap detik namanya selalu terngiang di pikiranku. masih teringat jelas cara dia berbicara cara dia bercanda dan tertawa. Setiap hari setiap waktu hanya dia yang selalu kuingin hanya dia yang selalu kunanti tuk tersenyum meski ku tahu bahwa sekarang itu tak mungkin.” Pikir Naya.
Terasa  dingin terhempas angin yang menerobos di sela-sela tubuh Naya. Ia berkata dalam hati, seandainya dia ada disini didekatnya ,menemaninya, dan tertawa bersamanya. Naya hanya berharap Randy ada disini dan tersenyum padanya. Namun harapan itu tidaklah sia-sia. Seseorang telah berdiri di depannya sambil tersenyum riang.
“Ingatlah.. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Naya hanya tersenyum. Randy memegang tangannya dan mulai berjalan menyusuri indahnya dedaunan pepohonan yang berguguran. Entah Naya harus percaya atau tidak tentang mitos itu namun Jamsa street lah yang telah memisahkan dan membuatnya bersatu kembali dengan sang pujaan hati.
Satu hal lagi yang patut Naya sadari bahwa cinta seperti matahari,ia tetap bercahaya walau malam menjelma,cahayanya pada bulan tetap menerangi,terkadang ia juga gerhana,namun tetap akan kembali juga kecerahannya.
***

the end
by Puja
Read More

Jamsa Street Part 1

Naya hanya diam memandang wajah Randy. “ada apa?”
“Tidak ada”tangan Randy memegang tangan kecil Naya untuk terus berjalan. Sesekali Naya menengok ke belakang telah seberapa jauh dia menelusuri jamsa street.  Akan kah yang dikatakan teman-temannya benar. Seberapa jauh perjalanan cinta ini akan terus berjalan, apakah akan putus ditengah jalan. Entahlah hanya Tuhan yang tahu.
***
Sepeda putih itu terus dikayuh Naya dengan beberapa buku yang ada di rak sepedanya. Senyum dari wajah Naya terpancar di pagi cerah itu.  Jam menunjukkan pukul  09.05, sudah telat lima menit Naya pun mempercepat langkahnya ke suatu tempat.  “silahkan masuk”
Permisi…
“Oh, Naya masuklah... apa kau sudah menyelesaikannya?”
Naya pun menganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan. “ ini beberapa desain yang telah saya buat. ........”
Profesor Alex memandang dengan serius hasil desain itu. “baiklah, nanti saya akan menghubungi kamu jika penilaian nya sudah selesai.”
“terima kasih pak”seraya membungkukkan setengah badannya.
“Naya....”teriak seorang cewek di ujung lorong sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Naya pun membalas lambaian tersebut dan perlahan melangkah mendekati sahabat dekatnya, Taeyeon. “Bagaimana hasilnya?”
Naya mengelengkan kepalanya. “ku harap desainmu bisa diterima. Jadi, kamu bisa dipromosikan pada perusahaan itu. Kalau kamu berhasil, kau harus traktir ku satu hari penuh.” Naya hanya bisa tertawa kecil.
Beberapa tumpukkan buku tebal ada di hadapan Naya dengan kacamata yang terpasang di kedua matanya. Taeyeon hanya memandang dengan tatapan kosong terhadap temannya ini. Bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika Naya bisa diberikan kesempatan untuk dipromosikan di suatu perusahaan jika setiap hari dia terus bertemu dengan buku-buku tebal ini.
“kemarin kami berdua ke Jamsa street...”
Apa???”muka Taeyeon yang pada mulanya bosan setengah mati seketika terkejut dari perkataan temannya ini.
“baa...gaimana bisa, kan sudah ku katakan jangan pernah ke sana. Soalnya aku pernah mengalaminya.”
“aku hanya ingin mencoba sejauh mana kebenaran akan mitos itu.”
“Tapi Naya semestinya kau harus belajar dari pengalamanku. Seharusnya dari dulu tidak ku katakan tentang hal ini..” jawab Taeyeon lesu. Naya hanya terseyum kecil dan melanjutkan membaca buku itu.
***
Sekerumbunan orang telah memenuhi sebuah kedai. Seorang kakek tua sibuk melayani pelanggannya yang begitu banyak. Memang kedai kakek tidak ada tandingannya. Makan sekali saja maka akan membuat pelanggannya terus ketagihan akan lezatnya Shepherd's Pie yang merupakan perpaduan tumisan daging sapi cincang dengan wortel dan kacang merah, lalu ditutup dengan mashed potato yang diaduk dengan susu ditambah dengan butiran keju. Walaupun begitu, beliau tidak akan sanggup jika bekerja sendirian apalagi telah menginjak umur tua. Makanya dari itu, kakek mengizinkan Naya untuk kerja sambilan di kedainya. Sejak itu pula hubungan mereka pula sangatlah dekat seperti kakek dengan cucunya.
Aah, Naya syukurlah kau datang. Ayo cepat,..”
“Baik, kek”buru-buru Naya meletakkan tas dan bukunya kemudian membantu mengantarkan pesanan ke pelanggan yang semakin bertambah. “tidak biasanya pelanggan kita banyak kek?”
“Kenapa? Kau tidak suka?” cetus kakek sambil menyiapkan makanan untuk pelanggannya.
Ahh, tidak aku malah bersyukur, sehabis ini kita harus merayakannya kek.”Sang kakek hanya bisa tersenyum renyah penuh rasa senang.
Perasaan bahagia terpancar dari wajah kakek. Walaupun dulu harus hidup susah sebatang kara mengahadapi kerasnya kehidupan. Namun, sekarang ia bisa memetik hasilnya. Itulah yang membuat Naya senang dan begitu bangga terhadap kakek.
Malam semakin larut, rasa letih menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala. Naya seolah tak sanggup lagi mengayuh sepedanya namun secepatnya dia harus pulang dan merebahkan dirinya. Bangunan dengan kombinasi warna krem dan abu-abu  telah didepan matanya. “Akhirnya sampai juga.” Gumam Naya.
***
Kringgg.......
Naya perlahan membuka matanya tepat pukul 08.15 pagi.
“Astaga, aku telat!”
Dengan kecepatan penuh Naya segera mandi, berbaju, dan menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan kuliah pagi ini. Tanpa disadari dia melupakan suatu hal yang penting yaitu Randy yang telah menunggu lama di depan pintu rumahnya.
“Ehmmmm.....selamat pagi chibi.”
Begitulah panggilan nakal Randy menghadapi kekasihnya yang kecil imut-imut itu. Randy tersenyum kecut sepertinya kesal dengan tingkah laku naya pagi ini.
“Sudah lama?...”
“Mungkin sekitar 2 jam yang lalu..”
Naya semakin memasang wajah cemberut dari perkataan Randy. Namun walaupun begitu rasa marah itu akan hilang dengan cepatnya ketika dia dekat dengan Randy. Setiap pagi Randy akan selalu menunggu Naya di depan rumahnya. Dalam situasi bagaimanapun Randy selalu menyempatkan dirinya untuk selalu pergi bersama-sama tiap paginya.  
Dengan cepat  keduanya mengayuh sepeda mereka dan memarkirkannya. Naya tampak sangat tergesa maklum hari ini prof. Hwang yang terkenal sebagai dosen killer akan mengisi materi kuliah Naya untuk pagi itu. Sedangkan Randy hanya tersenyum kecil memandang muka Naya yang penuh dengan ketakutan. Kemudian keduanya pun berpisah. Naya masuk dalam jurusan arsitek karena hobi dan bakatnya yang memang tertanam dari sang Ayah yang juga seorang arsitektur ternama. Sedangkan Randy masuk dalam jurusan Tata Boga dengan keahliannya sebagai juru masak.
            Randy  memang punya keahlian dalam bidang memasak dengan kedua tangannya dia bisa menghasilkan makanan yang rasanya tiada duanya. Walaupun begitu, sebenarnya dia hanya tertarik pada satu hal yaitu ice cream. Apapun akan dia lakukan demi menciptakan nilai rasa baru pada ice creamnya. Hingga sekarang dia terus berusaha berekspremin membuat segala macam ice cream yang bisa membuat para pelanggan dan dirinya puas. Hal itu lah yang membuat dia berhasil mendirikan sebuah cafe yang penuh dengan bermacam hidangan ice cream.
***

to be continued
by Puja
Read More

Celengan Part 2

“Aku pergi dulu...”
Surya meninggalkan rumah kecil sebagai tempat tinggalnya sementara disaat rumah yang dulu sedang diperbaiki. Sepedanya ia kayuhkan untuk pergi ke sekolah. Karena letaknya yang jauh, Surya harus pergi lebih pagi agar tidak terlambat. Maklum, letaknya dari sekolah agak lebih jauh dari rumah yang terbakar.
Ujian Akhir Nasional semakin dekat. Rasa gugup dari diri Surya sering muncul, ia harus lebih giat belajar di samping membantu kedua orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Surya, sepulang sekolah ini kami mau belajar bersama. Kau mau ikut?”
“Ehm, sepertinya tidak bisa... maaf yaa.”
Teman-teman Surya pun tidak ada yang menentang, mereka seakan mengerti kondisi yang dialami oleh Surya. Mereka hanya bisa membantu Surya sebatas kemampuannya berharap semua yang mereka lakukan setidaknya dapat membantu kehidupan Surya.
“Gorengan, gorengan, gorengan....”
Teriakan Surya dengan gorengan yang ditaruh dibelakangnya. Surya terus menawarkan jualannya pada orang sekitar. Sayang untuk hari ini hanya sedikit jualannya yang laku namun apalah itu semua harus tetap disyukuri.
“Seribu, dua ribu....”
Uang jajan yang telah ia simpan dimasukan ke dalamnya. Memang untuk beberapa waktu ini isi celengan itu tidak bertambah banyak seperti sebelumnya. Maklum, sejak musibah itu terjadi, tentunya pengeluaran semakin banyak. Kebakaran itu telah menghabiskan setengah dari harta keluarga Surya dan perlu waktu yang cukup lama untuk kembali seperti kehidupan semula.
“Harun, jangan ganggu kakakmu yang sedang belajar...”
Surya hanya memberikan senyuman kecil pada Harun yang sepertinya ingin bermain bersamanya. “Maaf ya Harun, kakak harus belajar dulu. mainnya nanti saja ya?”
“Harun!” Ucapan terlontar dari sang ibu yang menegur keras Harun. Harun hanya bisa diam dan lari menjauhi sang kakak. Surya mengganti lembaran dari buku Biologi yang dibacanya. Dua bulan lagi dia harus menempuh ujian kelulusannya. Surya harus mengurangi waktu kerjanya untuk belajar lebih banyak. Doa pada Tuhan pun tak luput ia lakukan.
“Semoga aku bisa lulus dan dapat meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.”
Sebuah kerja keras akan membuahkan sebuah hasil yang memuaskan. Begitupula dengan Surya tidak akan pernah putus asa untuk mencapai apa yang diimpikannya. Ujian telah di depan mata, sudah saatnya mematangkan diri untuk lebih serius belajar. Penjelasan dari sang guru tak luput dari catatan Surya, sepertinya Surya sangat berkonsentrasi dalam pelajaran satu ini hingga suara panggilan seorang guru kepadanya sempat terhiraukan.
“Surya, bisa keluar kelas sebentar?”
Berita itu sepertinya mengejutkan Surya. Tangan gemetaran membereskan buku yang ada di meja. Tas telah dirangkul pada bahu sepertinya harus meninggalkan pelajaran pada waktu ini.
“Surya, ada apa?”
Surya hanya menatap temannya dengan mata merah, diam kemudian pergi. Surya menyalami tangan bu guru dan dia pun hanya menepuk bahu Surya agar bisa tenang dan tidak panik.
“Hati-hati di jalan.”
Surya mengayuh sepedanya dengan sangat kencang. Perasaannya sekarang tidak menentu penuh dengan rasa takut, panik, dan khawatir. Semoga tidak terjadi apa-apa, itulah harapan Surya saat ini. Rumah Sakit Srimulia telah di depan mata, segera ia parkirkan sepedanya dan berlari ke ruang UGD. Matanya terus mencari dimanakah mereka, ayolah Surya kau harus menemukannya. Sosok wanita yang tak lain adalah ibunya sedang duduk penuh kecemasan.
“Mama, bagaimana keadaan Harun? apa tidak apa-apa?”
Sang ibu  hanya memeluk anak laki-lakinya itu. Surya tahu ibunya sangat cemas dan takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada anak bungsunya itu. Ini pertama kalinya Harun harus dirawat di rumah sakit, Harun adalah seorang anak yang sangat jarang terkena penyakit dan tentunya kondisi sekarang ini sangat mengejutkan bagi Surya dan orang tuanya.
“Kata dokter, Harun terkena penyakit Tipus. Sepertinya untuk sementara dia harus dirawat disini sampai keadaanya pulih kembali.” Sang ayah datang menepuk pundak istrinya.
“Tidak akan terjadi apa-apa. Asalkan Harun bisa makan banyak, pasti cepat sembuh.” Ayah tersenyum menghibur mereka berdua.
Harun telah dipindahkan ke ruang rawat.Sepertinya dia tertidur pulas walaupun demamnya masih tergolong tinggi. Ibu Surya terus berada di samping Harun dan tidak berpindah kemanapun. Beliau hanya ingin melihat anak kecilnya itu bisa membuka mata dan tertawa ceria seperti biasanya.
”Sebaiknya kau pulang, sudah hampir malam. Biar mama yang jaga Harun.”
Surya hanya menganggukkan kepanya. Sebelum pergi, ia membelai lembut kepala sang adik dan berharap besok ia dapat melihat sang adik mulai tertawa dan tersenyum kembali.
Sepertinya untuk malam ini Surya harus menghabiskan waktunya dengan kesendirian. Tak ada suara teriakan Harun yang memaksanya untuk ikut bermain, tak ada suara sang ibu yang memanggilnya untuk makan malam dan suara sang ayah yang sering bercanda dengannya dan adiknya. Sunyi senyap, Surya mengeluarkan beberapa uang logam seratus dan lima ratus rupiah untuk dimasukkan ke celengannya. Surya tersenyum, sekarang celengan itu mulai terisi penuh. Sepertinya dia harus mempersiapkan celengan baru lagi. Melihat celengan itu setidaknya membuat Surya sedikit gembira dan bisa melupakan sedikit tentang kekhawatirannya pada Harun.
***
“Sepertinya sudah lengkap.”
Beberapa baju Harun telah disiapkan dalam satu tas besar. Perasaan Surya mulai membaik karena Harun mulai membaik dan bercanda layak anak kecil seumuran mereka. beberapa mainan kecil kesukaan Harun tak luput ia bawakan. Surya meneruskan langkah ke ruang rawat Harun, namun sebelum masuk, dia melihat kedua orang tuanya sedang serius mendiskusikan sesuatu.
“Sepertinya Bapak harus meminjam uang buat pengobatan Harun.”
“Kenapa harus pinjam? kenapa tidak pakai uang simpanan saja? Kalau terus meminjam, hutang kita akan makin bertumpuk.”
“Tapi uang simpanan itu hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari saja dan juga membiayai sekolah Surya.”
“Terserah bapak saja, mama hanya ingin yang terbaik buat kita semua.”
Surya hanya bisa berdiri di balik dinding itu. Semua pembicaraan itu mengingatkan dia bahwa kondisi ekonomi keluarganya tidaklah baik. Surya hanya bisa duduk di ruang tunggu. Tas itu hanya tergeletak di sampingnya. Surya hanya bisa merenungkan semua ini.
“Apakah sesulit ini?” ia bergumam pelan, “Apa yang bisa ku lakukan untuk mereka? apa aku hanya bisa diam saja melihat kedua orang tuaku sedang kesulitan?”
“Tuhan, berikan aku jalan...” Bisik Surya dalam hati.
“Surya...kenapa di sini?” Suara sang ayah mengejutkan Surya. “Sebaiknya temani adikmu, untuk hari ini bapak tidak bisa menjaga mereka karena harus mengantar orang meninggal.”
“Jadi, tolong jaga mereka ya...” Ayah hanya menepuk pundak Surya. Senyuman terpancar dari wajahnya. Apakah senyuman itu benar-benar sebuah senyuman? Tapi, Surya yakin pasti dibalik senyuman itu terdapat sebuah beban besar yang harus ditanggungnya.
Tiba-tiba Surya teringat akan celengannya. Mata Surya terbuka sedangkan Harun masih tertidur pulas. Tuhan telah memberikan jalan padanya lewat celengan itu.
“Aku bisa menggunakan celengan itu untuk membiayai pengobatan Harun.”
Surya pun tanpa pikir panjang pulang ke rumah mengambil celengan itu. Memang celengan itu adalah harapan Surya untuk meraih impiannya, tapi impian masih dapat diraih dengan usaha lain, berbeda dengan Harun yang sedang kesakitan. Mungkin celengan ini bisa membantu kondisi orang tuanya. Surya hanya ingin mereka bisa tersenyum dengan lebarnya tanpa ada beban berat dibaliknya. Inilah usaha kecil yang Surya bisa lakukan.
“Mbak, saya ingin membayar administrasi atas perawatan Harun Yudasari.”
Surya mengeluarkan celengan itu dari tasnya kemudian ia serahkan pada pegawai itu. Dia  hanya bisa memandang aneh pada Surya. Mungkin ini adalah sesuatu yang aneh yang pertama kali dilihatnya.
“Maaf, sepertinya saya tidak bisa menerima ini. Apa anda tahu berapa jumlah uang yang ada dalam celengan ini? Anda harus membayar biayanya sebanyak satu juta rupiah. Apakah celengan ini cukup untuk membiayai semua ini?”
Ucapan itu membuat Surya sedih, ia hanya bisa mengucapkan maaf pada nona itu.
“Hei, nak... tunggu sebentar.” Seorang bapak menghentikan langkahku.
“Biar bapak bantu kamu menghitung uang yang ada di dalamnya, mungkin saja uang dalam celengan ini cukup untuk membiayai perawatan adikmu.” Senyuman bapak itu menghapus semua kekecewaan Surya pada orang itu. Surya pun yakin bahwa usaha jerih payahnnya dalam celengan ini tidak berbuah sia-sia.
Celengan itu telah pecah. Mereka pun segera menghitung uang yang ada di dalamnya.
“700.000.... tidak akan cukup.” kekecewaan terpancar di muka Surya.
“Jangan begitu, melihatmu berusaha keras membantu adikmu membuat ku tersentuh. Jarang ada anak yang mau memecahkan celengannya hanya untuk membiayai adiknya. Tenanglah, aku akan membantu mu menutupi kekurangannya.”
“Terima kasih...” Surya hanya bisa menundukan kepalanya dengan tangisan gembira.
Setelah itu, bapak itu membantu Surya menyerahkan uang itu. Beliau juga membantu menyelesaikan beberapa urusan administrasi adiknya. Diskusi kecil sempat terjadi diantara keduanya. Surya hanya menatap berharap semua ini tidak akan sia-sia. Bapak itu kembali dan tersenyum pada Surya.
“Berhasil, ini kwitansi pembayarannya. Kamu harus menyimpannya baik-baik.”
“Terima kasih pak, anda sangat membantuku...”
“Surya...” sang ayah tepat berdiri di depan Surya. Langkah kecil Surya dengan mata merah dan senyuman kecil terus mendekati ayahnya.
“Ayah ini kwitansi pembayaran pengobatan Harun.” Untuk beberapa saat ayah Harun hanya bisa terdiam.
“Dari mana kau dapat uangnya?”
“Aku memecahkan celengan ku. Aku hanya ingin membantu Harun saja. Bapak jangan marah ya? Aku benar-benar ikhlas melakukan semua ini. Semua ini kulakukan karena aku sayang pada Harun.” Air mata Surya membasahi pipinya. Sang ayah yang hanya diam tanpa kata. Beliau pun merendahkan dirinya dan memeluk Surya.
“Terima kasih nak, Bapak berhutang budi padamu.”
***
“Maaf celengan, aku harus memecahkanmu. Ternyata benar aku harus menggantinya dengan yang baru.”
Pecahan celengan itu masih ada di tempat Surya. Sungguh sulit untuk membuangnya. Celengan itu sangat memberikannya banyak kenangan baik manis maupun pahit. Suara riang Harun bermain bola membuat Surya merasa bahwa usahanya selama ini tidaklah sia-sia. Kini dia merasa lebih baik hingga dia mendapatkan berita yang membuatnya patut bangga akan dirinya. Surya berhasil lulus Ujian Akhir Nasional dan mendapat predikat lima besar terbaik di kabupatennya.
Kebahagian, kepuasan, dan rasa syukur terpanjat dari diri Surya. Namun, rezeki itu kata orang tidak akan pergi kemana-mana. Bapak yang membantu Surya saat di rumah sakit datang ke rumahnya. Ternyata bapak itu bekerja di sebuah dinas pendidikan dan mengajak Surya untuk ikut beasiswa prestasi. Tentu saja kesempatan itu takkan dibuang.
“Mama...Surya lulus dan bisa dapat beasiswa bersekolah di Jawa.”
Sang ibu memeluk Surya dengan erat mendengar kata-kata Surya barusan itu. air matanya tak berhenti dan rasa syukur yang sangat luar biasa.
“Kini, aku bisa berdiri sendiri, aku bisa meraih impianku pergi ke pulau Jawa, aku bisa membanggakan orang tuaku, dan tentu membuat senyuman mereka menjadi benar-benar sebuah senyuman hangat pada anaknya.”
“Tuhan, terima kasih atas semua rezeki ini. Apakah ini balasan dari celengan itu. Mungkin tanpa celengan itu aku tidak bisa berdiri di sini dengan menatap masa depan yang cerah. Mungkin celengan itu telah pecah untuk membantu adikku, tapi celelengan ini jualah yang mengantarkannku sampai di sini.”
Surya menatap langit siang yang cerah. Kini ia memakai seragam putih abu-abu dan tentunya sekarang dia berada di pulau Jawa tempat yang lama diimpikannya. Ia akan terus belajar terus belajar dan tentunya kerja keras untuk menggapai impiannya yang lain.
 “Sepertinya, aku butuh celengan baru....”
                                                                               ***

end
by Puja
Read More

© Puja Indah Anggraeni, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena